FINIA.CO.ID | WE IS THE NEXT INSPIRATION FOR INDONESIA

WELCOME IN A NEW MEDIA ONLINE IN DOMAIN WWW.FINIA.CO.ID FINIA.CO.ID | WE IS THE NEXT INSPIRATION FOR INDONESIA

Senin, 08 September 2014

Pulau Tunda

Posted By: Brian Aryanto - 19.11
Pagi itu terasa salah tingkah dan andrenealin terpacu bersemangat di Pelabuhan Karang Antu Banten, menunggu persiapan kapal yang akan berlayar menuju Pulau Tunda, pulau yang sudah saya idam-idamkan, sembari menunggu persiapan kapal selesai, saya menyempatkan diri memotret kapal-kapal yang merapat ke pelabuhan Karangantu sambil bercakap-cakap dengan penduduk lokal yang ramah-ramah dan baik hati. Penduduk lokal setempat menceritakan mengenai pelabuhan Karangantu dan tempat-tempat bersejarah di Banten, wow keren juga ni bapak, sayang saya sudah lupa dengan nama beliau hehehe.

Tidak terasa sudah berapa lama kita di atas kapal, kami bercanda tertawa satu sama lainnya, sambil makan cemilan yang sudah disiapkan dari awal, salah satunya adalah rujak manis, heem baru kali ini rasanya makan rujak diatas kapal, terasa pedas, asam, asin dan manis beserta tiupan angin bercampur dengan guncangan-guncangan pelan akibat sensasi diatas laut huuuuuhhhff sexi sekaliii hehehe.

Tidak berapa lama kamipun berhenti kurang lebih 20 meter dari bibir pantai pulau Tunda, dengan wajah dan muka bego saya bertanya-tanya "ooh kita berhenti disini yaa? kita mau snorkling disini ya?" hehehe padahal dalam hati sudah melonjak kegirangan karena melihat terumbu karang dari atas kapal sangat cantik-cantik dan terhampar air biru yang jernih serta pemandangan pulau yang tampak hijau di sekitarnya

susah diungkapkan untuk keindahan bawah laut Pulau tunda, banyak ikan bergerombol dan terumbuh karang dengan segala bentuk, mulai dari yang besar maupun yang kecil, dari yang sehat maupun yang mati.
Namun masih saya acungi jempol bahwa terumbu karang didaerah sekitar Pulau tunda masih terawat, ini merupakan sebuah pertanda bahwa dedikasi masyarakat setempat dalam merawat kekayaan alam laut masih tinggi, saya juga tidak melihat sampah di laut, jadi baiklah, ini snorkling yang sangat menyenangkan. Saya merasa gemes dengan ikan-ikan yang ada,
Kebanyakan dari ikan-ikan yang ada masih malu-malu, jarang ada yang mau mendekat dengan kita meskipun sudah kita kasih makan, tapi giliran kita sudah pergi, mereka pada ngerubutin #makanannya, ini merupakan sebuah tanda baik, berarti ikan-ikan disini belum terbiasa dengan pendatang yang berarti tingkat kunjungan pendatang yang bercengkramah dengan si ikan masih sedang-sedang saja atau bisa jadi sih ikan trauma dengan orang-orang yang snorkling dan menginjak-injak terumbu karangnya hehehe "#gak #penting".
Oh iya, katanya kalo pas bulan-bulan antara Juli hingga September banyak lumba-lumba yang terlihat diarea perairan Pulau Tunda, ikan lumbah-lumbah itu seolah-olah mengitari pulau.


Pulau Tunda  yang secara administratif merupakan sebuah pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Propinsi Banten dan terletak di Laut Jawa, sebalah Utara Banten. Di pulau Tunda ini hanya terdapat satu Desa yakni Desa Wargasara yang terdiri dari dua kampung, Kampung Barat dan Kampung Timur, lumayan juga kalo kita mau menjelajah dua kampung tersebut.

Berikut hidangan makanan di Pulau Tunda, masakannya enak dan didominasi oleh ikan-ikan segar, setiba kami setelah snorkeling langsung disambut oleh kelapa muda yang rasanya manis dan airnya segar sambil di temani jajanan khas Pulau Tunda, kalo gak salah ingat nama makanannya adalah kue Bontot, kue yang gurih ditambah cocolan sambal kacang sehingga tambah nikmat, heem muantap. Istimewanya lagi, meskipun lokasi kampung dekat dengan pantai, sumur-sumur di pulau ini memiliki air yang tidak asin, kemungkinan karena banyak tumbuhan dan pohon bakau sehingga bisa menetralisir air laut, sehingga bermanfaat untuk konsumsi sehari-hari dan lebih asiknya, anda tak perlu repot untuk berbilas sehabis senorkeling

Selain snorkeling Pulau Tunda juga menjadi tempat yang keren untuk memancing, suatau hari nanti kao saya kepulau Tunda lagi akan diajak mancing sama bang Ocid, penduduk asli Pulau Tunda yang keren abis. kata beliau Ikannya gede-gede dan masih segar serta hasil tangkapan bisa langsung dibakar dan nikmati langsung.

Setelah makan dan sedikit berkeliling-keliling Pulau, saya menemukan beberap anak yang asyik main main di pesisir pantai, riang gembira berloncatan dari atas kapal
Akomodasi
Saat berkeliling, saya belum belum menemukan adanya penginapan atau hotel di Pulau Tunda namun setelah bertanya-tanya ternyata ada homestay milik penduduk lokal yang bisa disewa dan dengan maraknya wisata Pulau Tunda, maka sudah bermunculan beberapa penginapan sederhana yang cukup nyaman. Harga penginapan untuk per malam adalah Rp300-500 ribu. Satu penginapan dapat menampung hingga 25 orang. Makanan dapat disediakan juga oleh penduduk setempat dengan biaya tambahan.

Uniknya lagi, di Pulau Tunda ada pengrajin pembuat kapalnya juga lhoo, kapal kapal itu terbuat dari kayu, dan pengrajin pada saat itu sedang membuat dua sampai dengan tiga kapal kayu yang ada di pulau Tunda
Pulau Tunda, Meskipun sebuah daerah terpencil, Pulau ini memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa, baik lingkungan maupun alamnya. Oleh karena itu, Pulau Tunda ini layak dimasukan kedalam tujuan wisata yang harus anda kunjungi di Banten.
Transportasi
Dari Jakarta dengan perjalanan darat Anda dapat mengarahkan perjalanan melalui Tol Kebon Jeruk-Merak untuk kemudian keluar di pintu Tol Serang Timur dan dilanjutkan perjalanan ke dermaga Karangantu. DI sana Anda dapat menyewa perahu dari Palabuhan Karangantu. Perahu berkapasitas maksimal 25 penumpang itu tarifnya Rp2,5-3 juta untuk perjalanan pulang pergi.

Tak terasa sudah sore, dan waktunya kembali pulang, dengan cukup puas, perjalanan pulang kami ke dermaga Karangantu ditemani senja dan berpapasan dengan dengan kapal-kapal yang lain

PULAU TUNDAAAAA, AKU KAN KEMBALI LAGIIII

Curug Cigamea

Posted By: Brian Aryanto - 07.53
Terlepas dari derita asap dan debu kota, saatnya untuk bernafas dengan sejuknya udara dan hawa murni air terjun dan pegunungan, penad dengan suara bising kendaraan dan hiruk pikuk kepadatan penduduk, maka sudah saatnya untuk memanjakan diri dengan suara alam, gemercik air dan hembusan udara segar, Curug Cigamea satu dari beberapa tempat yang menyejukkan, terdiri dari dua air terjun utama yang memiliki ciri khas tersendiri. Air terjun pertama lebih dekat dengan jalan masuk, dengan karakter tebing lebih curam dan didominasi bebatuan hitam.  Kubangan kolam yang menampung limpahan air yang berada dibawahnya tidak terlalu luas dan dalam serta dikelilingi bongkahan batu hitam yang besar-besar sehingga tidak bisa digunakan untuk berenang dan hanya cocok buat berendam dan basah-basahan menikmati percikan guyuran air yang mendarat ke kubangan kolam.
 Sementara air terjun kedua berjarak -+30 meter dari air terjun pertama dan berada di celah tebing.   Air terjun kedua ini memiliki tumpahan air yang cukup deras dibandingkan air terjun yang pertama.  kubangan kolam limpahan air yang ada di bawah air terjun kedua ini lumayan luas dengan warna air yang biru kehijau-hijauan di bagian tengah kolam menandakan bagian tersebut cukup dalam. Dulu sebelum ada papan larangan buntuk berenang, saya sering kali berenang sampai menyentuh tembih aliran air yang jatuh menghujam kebawah dan saya rasa volume air berubah ubah-ubah saat beberapa kali berenang di hari waktu yang berbeda. Pernah saya rasakan sampai tinggi se kepala yaitu kurang lebih 1,75 m dan pernah juga kurang lebih 2,5 m yaaa bisah jadi tergantung musim. Saat ada papan larangan untuk berenang, maka saya tidak berani berenang lagi dan hanya main-main di sampingnya.

Curug ini berada di Kawasan Wisata Gunung Salak Endah (GSE) di kaki Gunung Salak di bawah naungan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak).  Di kawasan ini terdapat juga beberapa curug lain.

Lokasi

Terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS: 6� 41' 40.30" S  106� 41' 8.48" E

 Aksesbilitas

Dari Pintu Gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah.  Selanjutnya dari pintu gerbang ini berjarak lebih kurang 4 km hingga tiba di pintu masuk Curug Cigamea.  Dari pintu masuk ini dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan berundak seperti anak tangga yang sudah cukup baik dengan menuruni lembah -+ 350 m atau -+25 menit dengan berjalan santai hingga tiba di lokasi Curug Ngumpet.
Di sepanjang jalan ada beberapa warung-warung penjual makannan dan souvenir serta adapula penginapan dan tempat peristirahatan. terkadang di perjalanan akan dijumpai beberapa ekor monyet yang biasanya mendekat untuk minta makanan.

Ada empat jalur yang bisa digunakan untuk menuju kawasan Salak Endah.  Pertama adalah jalur Cemplang (Cibungbulang)-Pamijahan-Salak Endah, kemudian ada jalur Cikampak-Salak Endah, Cibatok-Salak Endah dan terakhir jalur Tamansari-Gunung Bunder-Salak Endah. Umumnya jalur pertama lebih banyak dilalui, hal ini dikarenakan memiliki jarak dan waktu tempuh terpendek dari jalan raya Bogor-Leuwiliang. Selain itu, kondisi fisik jalan di jalur ini lebih bagus dan tidak berkelok-kelok.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari Bogor (Terminal Barangsiang) naik angkot 03 jurusan Bubulak, kemudian disambung dengan angkot lagi ke jurusan Leuwiliang.  Turun di pertigaan Cibatok atau Cibungbulang, lalu naik angkot lagi ke jurusan Gunung Picung hingga perhentian terakhir angkot.  Dari perhentian terakhir angkot tersebut perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki atau naik ojek ke pintu gerbang (pos jaga) Wana Wisata Gunung Salak Endah.

Tiket dan Parkir

Tiket masuk adalah Rp.3500 per orang.  Sedangkan tiket masuk ke kawasan Wisata Gunung Salak Endah (GSE) adalah Rp 7000 per orang termasuk kendaraan roda dua.
Nb: Harga sewaktu-waktu bisa berubah

Fasilitas dan Akomodasi

Banyak tersedia tempat penginapan dan warung di kawasan ini.

Rabu, 20 Agustus 2014

Hotel Bersubsidi di Jakarta

Posted By: Brian Aryanto - 22.00
Hotel Bersubsidi di Jakarta
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta memiliki hotel bersubsidi yang dibangun dengan misi sosial, yakni memfasilitasi remaja dan anak-anak yang ingin berwisata ke ibukota. Hotel tersebut bernama Graha Wisata, terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan GOR Ragunan. Masing-masing hotel memiliki daya tampung 300 dan 326 orang.

Sesuai dengan target pasar, tarif hotel dipatok dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp25 ribu per orang untuk pelajar dan mahasiswa, serta Rp50rb untuk umum. Ada dua jenis kamar yang tersedia, yaitu kamar standar dengan kapasitas 2-3 orang dan kamar barak yang bisa memuat 22-24 orang.


"Meskipun harganya murah, bukan berarti kami tidak mengutamakan fasilitas. Di dalam kamar standar terdapat AC, televisi dan kamar mandi, kami juga menyediakan akses internet," kata Isti Hendrati, Kepala Unit Pengelola Graha Wisata kepada Indonesia.travel, Jum'at (4/7).

Fasilitas lain yang diberikan Hotel Graha Wisata adalah ruang pertemuan yang mampu menampung 50-150 orang, biayanya Rp200 ribu per 8 jam untuk pelajar dan mahasiswa, serta Rp400 ribu per 8 jam untuk umum.

Penginapan ini sering digunakan untuk widya wisata, lokakarya, seminar, rapat dan pelatihan. Menurut Isti Hendrati, tamu yang datang mencakup dari seluruh provinsi di Indonesia, Jawa Tengah berada di peringkat paling atas. Terkadang, ada juga tamu yang datang dari luar negeri seperti Malaysia.

Hotel Graha Wisata dibangun pada 1974 oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, di empat kawasan wisata sekaligus yaitu TMII, Ragunan, Kuningan dan Ancol. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Hotel Graha Wisata di Ancol tidak lagi beroperasi, sedangkan yang terletak di Kuningan dijadikan kompleks Diklat DKI.

Di usianya yang menyentuh angka 40, Hotel Graha Wisata terus menyesuaikan diri dengan perkembangan hotel saat ini. Selain melakukan revitalisasi untuk meningkatkan fasilitas, pelayanan pun diutamakan. Karyawan-karyawan yang bertugas diberikan pelatihan khusus dan disertifikasi terlebih dahulu.

"Yang menginap selalu kembali ke sini, bahkan mereka merekomendasikan Hotel Graha Wisata kepada teman-temannya. Kontribusi dari hotel ini juga banyak bagi pariwisata, tamu-tamu tidak hanya menginap, tapi juga belanja, kuliner dan memasuki membeli tiket kawasan wisata," lanjut Isti Herdati.

Untuk ke depannya, Isti berharap bahwa Hotel Graha Wisata dapat dikenal oleh lebih banyak orang, serta mendirikan beberapa hotel lagi di kawasan-kawasan wisata lainnya. (Laras/Him | www.indonesia.travel)

Silakan hubungi pihak berikut untuk informasi dan keterangan.
Graha Wisata Ragunan
Jalan Harsono RM, Komplek Gor Jayaraya Ragunan, Ragunan, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12550, Jakarta
Telp: (021) 7806540; 7812147

Graha Wisata Taman Mini Indonesia Indah
Jalan Pondok Gede Kompl Taman Mini Indonesia Indah
Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur
Telp: (021) 8400270; 8409289
Website: www.grahawisatajakarta.com

Graha Wisata Kuningan
Jalan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan
Telp:  (021)5256922;5256930

Minggu, 17 Agustus 2014

Cisadane

Posted By: Brian Aryanto - 08.07

"Sungai Cisadane, pada masanya pernah menjadi urat nadi transportasi dan Kehidupan, memberi ruang dan kemudahan dalam berpindah maupun bernafkah"

Pagi itu suasana cerah ditemani matahari yang sedikit malu-malu tersenyum, dengan berbincang ringan dan bercanda tawa sayapun mengobrol dengan dua blogger kawakan yaitu mas Wira Nurmansya dan mas Tekno Bolang sembari sarapan soto yang dijual di samping jalan sungai Cisadane, sotonya enak banget.

Acara kita hari ini adalah mau jalan-jalan menyusuri Sungai Cisadane dan sekitarnya, sambil menunggu teman kita satunya lagi yaitu kakak Indri, seorang blogger perempuan yang masih dalam perjalanan dari Depok menuju Tangerang

Tak terasa suasana sarapanpun berlalu, soto dan minumannya sudah habis kita lahap, tak lama kemudian datanglah kak Indri dengan setelan serba Hijau cantik hehehe. setelah beberapa menit berkenalan dan mengobrol ringan, maka kami putuskan untuk naik kapal, kebetulan kami juga didampingi bapak-bapak yang dari tadi sudah ngobrol dengan kami waktu sarapan sambil bapak-bapak itu menawarkan sewa Kapal perahu, setelah kita berempat ngobrol-ngobrol ringan, maka kami putuskan untuk susur sungai Cisadane dengan kapal perahu. 

Satu-persatu kami masuk ke perahu dengan sedikit mengimbangi goncangan yang terjadi, karena kami mulai menaiki perahu dan sontak perahunya pun berguncang, mungkin karena badan kita yang besar-besar. Dengan tenang  kami duduk manis secara perlahan-lahan dan Si bapak pengayuh kapal mulai mengayuh dengan dayung perahunya. 

Kapal perahu ini bukan merupakan perahu wisata, hanya sebagai sarana transportasi penyebrang penduduk setempat dan sebagai sarana ibadah bagi warga Tionghoa yang ingin beribadah dengan melepaskan hewan hidup ke sungai seperti ikan lele atau kura-kura, sehingga wisatawan merupakan rejeki tambahan bagi bapak-bapak yang nyewain kapal. Meskipun saya tidak melihat adanya pelampung dan alat keselamatan lainnya tapi sekilas terlihat secara keseluruhan aman, toh kalo kapal tenggelampun saya kira akan banyak yang menolong, dikarenakan suasana di pinggir dan di tepi-tepi dungai cisadane tergolong rame.

Oh iya, waktu itu kapal yang kita naikin bocor, meskipun kita semua bisa berenang, tapi bagaimana dengan kamera dan barang-barang kami lainnya? tapi berbeda dengan bapak yang mengendalikan kapalnya, beliau bilang bahwa kapalnya bocor dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa, sedikit kami kaget tapi melihat suasana yang biasa-biasa saja, sayapun juga santai.

Dengan mengayuh dayungnya, si bapak bilang "kapalnya bocor jadi kita menepi ganti kapal dulu yaaa" kata si bapak dengan wajah santai kayak ditepi pantai hehehe

Tidak lama kemudian kami ganti kapal sembari melihat bapak-bapak lainnya yang lagi ngerumpi dan aktifitas ibu-ibu di samping sungai 
susur sungai Cisadane kita, bisa dibilang sebagian dan tidak menyeluruh, tapi sudah banyak hal yang kita dapatkan.  Mulai dari sekelumit kegiatan dari warga kampung bantaran Sungai Cisadane maupun alam dan mahluk hidup lainnya.

sekelompok anak bermain di tepi sungai dan ada ibu-ibu yang memberi makan ternak ayam-ayamnya. Di sudut lain terlihat gadis remaja yang mencuci pakaiannya meskipun boleh dibilang kualitas air sungai Cisadane kurang bagus, tapi mungkin itulah yang bisa mereka hadapi.

disisi lain ada beberapa kelompok bapak-bapak yang sedang memancing ikan dan ketepatan pula ada yang dapat ikan, sontak saya bilang "itu ada yang dapat" dan sih bapak pengayuh kapal bilang "sepertinya ikan lele"

perlahan kapal kami menyusuri sungai dan disekitar kapal kita beberapa kali ada ikan yang meloncat serta banyak terlihat ikan sapu-sapu serta di tepian sungai tadi juga banyak terlihat kecebong dan juga kata bapak pengayuh kapal juga masih banyak ikan gabus, jadi menandakan bahwa nilai ekologi sungai Cisadane ini masih lumayan cukup bagus dan semoga semakin bagus apalagi melihat sungainya yang tenang dan tidak terlalu banyak sampah sehingga memberi gambaran taraf kesadaran hidup masyarakat di bantaran sungai sungai Cisadane sudah mulai bagus. 
Akhirnya kami harus menepi ke dermaga pertama kali kami naik yaitu dermaga di sisi timur dengan bangunan yang tersusun rapi dan bantaran kali dengan tanggul beton pas disisih jalan raya. ketika mendarat saya melihat lagi aliran sungai yang kita susuri, terlihat sisi barat sungai dengan perpaduan rumah dan tumbuh-tumbuhan yang masih tampak hijau serta air sungai pun langsung bertemu dengan tepian tanah merah daratan warga bantaran sungai Cisadane sebelah timur

Setelah mendarat didermaga, kami melanjutkan untuk jalan jalan ke Kuil Boen Tek Bio dan museum sekalian belanja karena dekat pasar. 
Dalam perjalanan pulang saya hanya terngiang, seandainya Cisadane bisa dikembangkan lagi menjadi area wisata, kama akan banyak warga secara ekonomi akan terangkat.

Ada yang berminat susur Sungai Cisadane? Kalau ada waktu dan sempat Ayuuuuk ajak saya dan bareng-bareng lagi! Siapa tahu banyak hal-hal yang bisa kita temukan. 



Senin, 14 Juli 2014

Kareta Karaton Ngayogyakarta

Posted By: Brian Aryanto - 00.02
Museum Kareta Karaton Ngayogyakarta

Kereta Kyai Jolo Doro


Kereta Kyai Roto Biru


Kereta Kyai Rejo Pawoko


Kereta Landower


Kereta Premili


Kereta Kus No:10


Kereta Kapulitin

Kereta Kyai Kutha Kaharjo


Kereta Kus Gading



Kereta Kyai Puspoko Manik



Kereta Kyai Mondro Juwolo



Kereta Kanjeng Nyai Jimad



Kereta Kyai Manik Retno


Kereta Kyai Garudo Yeksa




Kereta Kyai Wimono Putro




Kereta Kyai Harsunaba


Kereta Kyai Jetayu



Rabu, 21 Mei 2014

Gultik atau Gulai Tikungan

Posted By: Brian Aryanto - 08.42
Jelajah Wisata Kuliner Jakarta, Gultik, Gulai sapi dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya yang lezat disiramkan diatas sepiring nasi, ditambah taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk, Jika anda menyukai rasa pedas, Anda bisa meminta sambal pada pedagangnya. Rasanya memang sederhana namun tetap mempunyai rasa yang khas dan bikin kangen, sehingga rasa gurih gulai dipadu dengan manisnya kecap dan pedasnya sambal cukup untuk membuat anda ketagihan. Gulai ini termasuk jajanan kaki lima akan tetapi dengan rasa yang tidak kala hebat dengan masakan restoran, mungkin karena resep dan keahlian yang sudah ter asah lama

ada beberapa penjual gultik dan mereka mempunyai ciri khas masing-masing, mulai dari cita rasa atau tempatnya dan yang jelas penjualnya juga berbeda beda. Beberapa pengunjung setia memiliki abang-abang favorit untuk menjadi langganan menikmati Gulai diseputaran bundaran mahakam ini.

Kok Namanya Gultik?
Setau saya, nama Gultik berasal dari singkatan Gulai tikungan, karena para abang abang penjual gultik banyak yang berjualan disekitar tikungan atau bundaran Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta Selatan. Gultik biasanya diplesetin gulai tikus sih xixixixi tapi sebenarnya ya gulai sapi.

Berapa Harganya?
Untuk harga saat ini masih Rp 8.000 perporsi, harganya murah meriah tapi rasanya oke punya

Buka Jam Berapa?
Buka mulai jam 4 sore sampai jam 3 malam, tapi tergantung stok gulainya sih, terkadang sampai dengan jam 5 masih ada yang buka

Alamatnya dimana?
Seputar Bundaran Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta 12130, Indonesia, Jakarta Selatan, Jakarta Capital Region
dekat Blok M Plaza dan Ayam bakar Gantari

Suasananya?

Aku kira enak banget, ya gak ada salahnya kalo pingin jelajah wisata kuliner atau kongkow-kongkow untuk mampir di sini. Harganya murah, makanannya enak, dan tempatnya cukup nyaman dan semi terbuka sih tapi oke kok, bahkan banyak kalo malam para langganan yang menggunakan mobil maupun motor pada berdatangan, karena parkirannya juga luas, untuk parkirannya kurang lebih bayar Rp 2000 rupiah.

Para blogger, traveller atau siapaun itu, bahkan mas Bedul atau mas Panjul kalo ingin datang mencoba Gultik alias gulai tikungan silahkan datang lo ke alamat tersebut, dan dijamin ketagihan

Selasa, 22 April 2014

Museum Satria Mandala

Posted By: Brian Aryanto - 06.19
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, itulah kalimat yang sepertinya sangat cocok sebagai lencana untuk di sematkan di depan museum-museum Indonesia, salah satunya adalah museum Satria Mandala, yaitu museum yang menyimpan berbagai saksi bisu deretan sejarah Nusantara Indonesia, serta menggambarkan kiprah sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)dalam waktu yang cukup panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Cerita dan gambaran Perjuangan bangsa Indonesia dengan kiprah Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai intinya, berjuang secara bahu membahu dalam peta perjalanan bangsa Indonesia. 

Di dalam sejarah, TNI mempunyai peran penting dalam meningkatkan semangat juang dan semangat memperkuat jati diri bangsa serta semangat mempertahankan sendi-sendi serta urat nadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. sebagai garda terdepan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, TNI mempunyai sejarah dan latar belakang yang panjang, yang semua itu bisa dituturkan dan digambarkan melalui Museum-museum, monumen, dan bait-bait tulisan sejarah yang hanya segelintir dibandingkan keadaan yang sebenarnya pada waktu masa lalu.

Museum-museum, monumen, dan perpustakaan, menyajikan peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan melalui 
diorama-diorama, peninggalan sejarah dan ribuan saksi bisunya yang menggambarkan tentang kejayaan Nusantara dan cita-cita mempersatukan bangsa tersaji di Museum Keprajuritan Indonesia ini. 

Museum Satria Mandala terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan. Gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

Di museum ini tersimpan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tahun 1945 sampai sekarang, seperti aneka senjata berat maupun ringan, peluru dari berbagai jenis ukuran, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, berbagai jenis pesawat terbang yang masih tampak kewibawaannya pada masa lalu. Satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudriman saat bergerilya melawan penjajah yang konon tandu ini diperkirakan telah menempuh jarak lebih dari 1.000 km.

Di dalam museum terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Gedung Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis pada tahun 60-an. Selain diorama, dipamerkan pula dokumen, peta operasi, dan benda-benda relik lainnya. 















Alamat:

MUSEUM SATRIAMANDALA
Jl. Gatot Subroto Kav.14 Jakarta Selatan 12710 Telp. 021-522 7946

Tiket: Rp 2.500


Sebagai Penutup Pidato Jendral Soedirman 
Sebagai Berikut

Copyright © 2013 FINIA.CO.ID™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.