FINIA.CO.ID | WE IS THE NEXT INSPIRATION FOR INDONESIA

WELCOME IN A NEW MEDIA ONLINE IN DOMAIN WWW.FINIA.CO.ID FINIA.CO.ID | WE IS THE NEXT INSPIRATION FOR INDONESIA
Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2015

Kuil Boen Tek Bio

Posted By: Brian Aryanto - 01.23

Patung naga itu bertengger di atas bangunan klasik sebuah klenteng dan tidak tau mengapa tiba-tiba saya sangat tertarik dengan klenteng ini yaitu klenteng boen tek bio. Waktu itu saya hanya beniatan untuk menyusuri sungai Cisadane saja dan melwati pasar Tangeran lama, berkelak kelok dan berhimpitan dengan para pedagang dan pembeli. Tak jauh dari situ tepatnya di pertigaan jalan yang tidak terlalu besar, terdapat sebuah klenteng, tiba-tiba kami bertiga berembuk kalo kami ingin mengambil gambar dan ingin masuk ke klenteng tersebut, dengan santai kami meminta izin kepada satpam yang menjaga klenteng tersebut dan dengan rama beliau mempersilahkan kita untuk mengisi buku tamu dan memberitahukan area yang boleh dilintasi dan area yang tidak boleh dilintasi, sekaligus memberi arahan tanda-tanda serta bagian-bagian yang mana kita harus melepas alas kaki kita.
Dari bangunannya terlihat benar bahwa bangunan ini berumur sangatlah tua, alas-alas terakota yang kokoh berwarna merah menghampar sebagai jalan, sebagai keharusan dan adat, apabila ada salah satu terakota yang rusak atau barang apapun yang rusak, maka harus diganti sama persis sesuai dengan barang yang sebelumnya, sehingga bentuk dan keasliannya masih terjaga dari masa kemasa sampai saat ini. 

Setelah mengobrol santai dengan para penjaga di Klenteng Boen Tek Bio ternyata  klenteng tersebut salah satu klenteng tertua yang berada di wilayah Tangerang, jadi ketemu nih satu lagi destinasi Culture & heritagenya tangerang, yaitu Boen Tek Bio

Bangunan klasik ini menjadi penanda dari bukti bukti peradaban warga Tangerang saat itu. Bukti adanya keselarasan dan ada kerukunan yang harmonis  dalam kehidupan warga Tangerang. 

Boen Tek Bio, sebuah klenteng pertama di kota Tangerang yang dibangun kurang lebih pada abad 17an di kawasan yang kini dikenal dengan nama Pasar Lama. Para leluhur mereka membuka permukiman baru di tepian sungai Cisadane itu sekitar akhir abad ke-17.

Boen Tek Bio  namanya bisa diartikan sebagai klenteng kebajikan (Boen=Sastra, Tek=Kebajikan, dan Bio=Tempat Ibadah), Masyarakat pendiri Boen Tek Bio sangat sadar akan arti pentingnya klenteng, Selain sebagai tempat beribadah, klenteng juga mempunyai fungsi sosial sebagai tempat komunitas berkumpul guyup dan menyelesaikan masalah, sehinggah Klenteng merupakan sarana untuk menyatukan banyak komunitas, dan klenteng juga mempunyai peranan penting dalam stabilitas daerah itu.

Semakin terpelajar dan semakin terdidik sebuah bangsa, maka warganya tidak mempermasalahkan RAS, bukahkan sebuah perbedaan adalah anugra untuk saling mengenal dan memperkaya kazanah hidup, baik tatanan sosial maupun individu


Lokasi
Lokasi Klenteng Boen Tek Bio, berada di pasar lama tangerang selatan, tepatnya di persimpangan jalan bhakti dan jalan cilame, pasar lama Tangerang Banten


Tempat Makan
Untuk mencari makan, anda tidak perlu repot, karena kanan miri klenteng Boentek Bio ini banyak penjual makanan dan kebetulan Klenteng ini berdekatan dengan pasar, sehingga bisa sekalian berbelanja keperluan dapur


Tempat Wisata Terkait
Tempat wisata terkait dengan Klenteng Boen Tek Bio adalah Sungai Cisadane dan Museum Benteng Heritage, kedua tempat wisata ini sangat berdekatan dengan Klenteng Boen Tek Bio, anda tinggal berjalan kaki

Tips
Mohon memberi informasi atau laporan dulu kepada penjaga Klenteng jika anda ingin memasuki Klenteng Boen tek Bio dan mengambil gambar.


Lonceng Raksasa
Lonceng Raksasa tua yang elok di halaman Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang ini konon berasal dari negeri Tionghoa dan dibuat kurang lebih tahun 1835.

Jumat, 12 September 2014

Angkringan Sego Kucing

Posted By: Brian Aryanto - 08.49

Sudah lama mas-mas angkringan langganan saya tidak jualan lagi, terkadang kalau malam saya sering nongkrong di Angkringan Sego Kucing ini, tepatnya di kota Tangerang Selatan yang masuk wilayah Propinsi Banten dan boleh juga dibilang perbatasan antara Banten dan Jakarta Selatan karena saking dekatnya, yaaaa kira-kira selemparan kancut sudah sampai, bahkan kalo kesandungpun langsung masuk wilayah Jakarta selatan. Dengan beberapa bangku dan lesehan khas angkringan, saya nongkrong untuk menikmati wedang jahe, yaa selain wedang jahe juga msih banyak menu camilan lainnya seperti sate daging, sate telor puyuh, sate kikil, tempe bacem, tahu bacem, uli bakar, tahu isi, dan banyak lagi macamnya.

Angkringan ini terasa menyenangkan bagi saya, dengan lampu yang temaram, masakan yang enak dan susu jahe dengan aroma segar serta tempatnya nyaman.

Oh iya, satu lagi... sambelnyaa maknyus banget. 

Senin, 08 September 2014

Pulau Tunda

Posted By: Brian Aryanto - 19.11
Pagi itu terasa salah tingkah dan andrenealin terpacu bersemangat di Pelabuhan Karang Antu Banten, menunggu persiapan kapal yang akan berlayar menuju Pulau Tunda, pulau yang sudah saya idam-idamkan, sembari menunggu persiapan kapal selesai, saya menyempatkan diri memotret kapal-kapal yang merapat ke pelabuhan Karangantu sambil bercakap-cakap dengan penduduk lokal yang ramah-ramah dan baik hati. Penduduk lokal setempat menceritakan mengenai pelabuhan Karangantu dan tempat-tempat bersejarah di Banten, wow keren juga ni bapak, sayang saya sudah lupa dengan nama beliau hehehe.

Tidak terasa sudah berapa lama kita di atas kapal, kami bercanda tertawa satu sama lainnya, sambil makan cemilan yang sudah disiapkan dari awal, salah satunya adalah rujak manis, heem baru kali ini rasanya makan rujak diatas kapal, terasa pedas, asam, asin dan manis beserta tiupan angin bercampur dengan guncangan-guncangan pelan akibat sensasi diatas laut huuuuuhhhff sexi sekaliii hehehe.

Tidak berapa lama kamipun berhenti kurang lebih 20 meter dari bibir pantai pulau Tunda, dengan wajah dan muka bego saya bertanya-tanya "ooh kita berhenti disini yaa? kita mau snorkling disini ya?" hehehe padahal dalam hati sudah melonjak kegirangan karena melihat terumbu karang dari atas kapal sangat cantik-cantik dan terhampar air biru yang jernih serta pemandangan pulau yang tampak hijau di sekitarnya

susah diungkapkan untuk keindahan bawah laut Pulau tunda, banyak ikan bergerombol dan terumbuh karang dengan segala bentuk, mulai dari yang besar maupun yang kecil, dari yang sehat maupun yang mati.
Namun masih saya acungi jempol bahwa terumbu karang didaerah sekitar Pulau tunda masih terawat, ini merupakan sebuah pertanda bahwa dedikasi masyarakat setempat dalam merawat kekayaan alam laut masih tinggi, saya juga tidak melihat sampah di laut, jadi baiklah, ini snorkling yang sangat menyenangkan. Saya merasa gemes dengan ikan-ikan yang ada,
Kebanyakan dari ikan-ikan yang ada masih malu-malu, jarang ada yang mau mendekat dengan kita meskipun sudah kita kasih makan, tapi giliran kita sudah pergi, mereka pada ngerubutin #makanannya, ini merupakan sebuah tanda baik, berarti ikan-ikan disini belum terbiasa dengan pendatang yang berarti tingkat kunjungan pendatang yang bercengkramah dengan si ikan masih sedang-sedang saja atau bisa jadi sih ikan trauma dengan orang-orang yang snorkling dan menginjak-injak terumbu karangnya hehehe "#gak #penting".
Oh iya, katanya kalo pas bulan-bulan antara Juli hingga September banyak lumba-lumba yang terlihat diarea perairan Pulau Tunda, ikan lumbah-lumbah itu seolah-olah mengitari pulau.


Pulau Tunda  yang secara administratif merupakan sebuah pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Propinsi Banten dan terletak di Laut Jawa, sebalah Utara Banten. Di pulau Tunda ini hanya terdapat satu Desa yakni Desa Wargasara yang terdiri dari dua kampung, Kampung Barat dan Kampung Timur, lumayan juga kalo kita mau menjelajah dua kampung tersebut.

Berikut hidangan makanan di Pulau Tunda, masakannya enak dan didominasi oleh ikan-ikan segar, setiba kami setelah snorkeling langsung disambut oleh kelapa muda yang rasanya manis dan airnya segar sambil di temani jajanan khas Pulau Tunda, kalo gak salah ingat nama makanannya adalah kue Bontot, kue yang gurih ditambah cocolan sambal kacang sehingga tambah nikmat, heem muantap. Istimewanya lagi, meskipun lokasi kampung dekat dengan pantai, sumur-sumur di pulau ini memiliki air yang tidak asin, kemungkinan karena banyak tumbuhan dan pohon bakau sehingga bisa menetralisir air laut, sehingga bermanfaat untuk konsumsi sehari-hari dan lebih asiknya, anda tak perlu repot untuk berbilas sehabis senorkeling

Selain snorkeling Pulau Tunda juga menjadi tempat yang keren untuk memancing, suatau hari nanti kao saya kepulau Tunda lagi akan diajak mancing sama bang Ocid, penduduk asli Pulau Tunda yang keren abis. kata beliau Ikannya gede-gede dan masih segar serta hasil tangkapan bisa langsung dibakar dan nikmati langsung.

Setelah makan dan sedikit berkeliling-keliling Pulau, saya menemukan beberap anak yang asyik main main di pesisir pantai, riang gembira berloncatan dari atas kapal
Akomodasi
Saat berkeliling, saya belum belum menemukan adanya penginapan atau hotel di Pulau Tunda namun setelah bertanya-tanya ternyata ada homestay milik penduduk lokal yang bisa disewa dan dengan maraknya wisata Pulau Tunda, maka sudah bermunculan beberapa penginapan sederhana yang cukup nyaman. Harga penginapan untuk per malam adalah Rp300-500 ribu. Satu penginapan dapat menampung hingga 25 orang. Makanan dapat disediakan juga oleh penduduk setempat dengan biaya tambahan.

Uniknya lagi, di Pulau Tunda ada pengrajin pembuat kapalnya juga lhoo, kapal kapal itu terbuat dari kayu, dan pengrajin pada saat itu sedang membuat dua sampai dengan tiga kapal kayu yang ada di pulau Tunda
Pulau Tunda, Meskipun sebuah daerah terpencil, Pulau ini memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa, baik lingkungan maupun alamnya. Oleh karena itu, Pulau Tunda ini layak dimasukan kedalam tujuan wisata yang harus anda kunjungi di Banten.
Transportasi
Dari Jakarta dengan perjalanan darat Anda dapat mengarahkan perjalanan melalui Tol Kebon Jeruk-Merak untuk kemudian keluar di pintu Tol Serang Timur dan dilanjutkan perjalanan ke dermaga Karangantu. DI sana Anda dapat menyewa perahu dari Palabuhan Karangantu. Perahu berkapasitas maksimal 25 penumpang itu tarifnya Rp2,5-3 juta untuk perjalanan pulang pergi.

Tak terasa sudah sore, dan waktunya kembali pulang, dengan cukup puas, perjalanan pulang kami ke dermaga Karangantu ditemani senja dan berpapasan dengan dengan kapal-kapal yang lain

PULAU TUNDAAAAA, AKU KAN KEMBALI LAGIIII

Minggu, 17 Agustus 2014

Cisadane

Posted By: Brian Aryanto - 08.07

"Sungai Cisadane, pada masanya pernah menjadi urat nadi transportasi dan Kehidupan, memberi ruang dan kemudahan dalam berpindah maupun bernafkah"

Pagi itu suasana cerah ditemani matahari yang sedikit malu-malu tersenyum, dengan berbincang ringan dan bercanda tawa sayapun mengobrol dengan dua blogger kawakan yaitu mas Wira Nurmansya dan mas Tekno Bolang sembari sarapan soto yang dijual di samping jalan sungai Cisadane, sotonya enak banget.

Acara kita hari ini adalah mau jalan-jalan menyusuri Sungai Cisadane dan sekitarnya, sambil menunggu teman kita satunya lagi yaitu kakak Indri, seorang blogger perempuan yang masih dalam perjalanan dari Depok menuju Tangerang

Tak terasa suasana sarapanpun berlalu, soto dan minumannya sudah habis kita lahap, tak lama kemudian datanglah kak Indri dengan setelan serba Hijau cantik hehehe. setelah beberapa menit berkenalan dan mengobrol ringan, maka kami putuskan untuk naik kapal, kebetulan kami juga didampingi bapak-bapak yang dari tadi sudah ngobrol dengan kami waktu sarapan sambil bapak-bapak itu menawarkan sewa Kapal perahu, setelah kita berempat ngobrol-ngobrol ringan, maka kami putuskan untuk susur sungai Cisadane dengan kapal perahu. 

Satu-persatu kami masuk ke perahu dengan sedikit mengimbangi goncangan yang terjadi, karena kami mulai menaiki perahu dan sontak perahunya pun berguncang, mungkin karena badan kita yang besar-besar. Dengan tenang  kami duduk manis secara perlahan-lahan dan Si bapak pengayuh kapal mulai mengayuh dengan dayung perahunya. 

Kapal perahu ini bukan merupakan perahu wisata, hanya sebagai sarana transportasi penyebrang penduduk setempat dan sebagai sarana ibadah bagi warga Tionghoa yang ingin beribadah dengan melepaskan hewan hidup ke sungai seperti ikan lele atau kura-kura, sehingga wisatawan merupakan rejeki tambahan bagi bapak-bapak yang nyewain kapal. Meskipun saya tidak melihat adanya pelampung dan alat keselamatan lainnya tapi sekilas terlihat secara keseluruhan aman, toh kalo kapal tenggelampun saya kira akan banyak yang menolong, dikarenakan suasana di pinggir dan di tepi-tepi dungai cisadane tergolong rame.

Oh iya, waktu itu kapal yang kita naikin bocor, meskipun kita semua bisa berenang, tapi bagaimana dengan kamera dan barang-barang kami lainnya? tapi berbeda dengan bapak yang mengendalikan kapalnya, beliau bilang bahwa kapalnya bocor dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa, sedikit kami kaget tapi melihat suasana yang biasa-biasa saja, sayapun juga santai.

Dengan mengayuh dayungnya, si bapak bilang "kapalnya bocor jadi kita menepi ganti kapal dulu yaaa" kata si bapak dengan wajah santai kayak ditepi pantai hehehe

Tidak lama kemudian kami ganti kapal sembari melihat bapak-bapak lainnya yang lagi ngerumpi dan aktifitas ibu-ibu di samping sungai 
susur sungai Cisadane kita, bisa dibilang sebagian dan tidak menyeluruh, tapi sudah banyak hal yang kita dapatkan.  Mulai dari sekelumit kegiatan dari warga kampung bantaran Sungai Cisadane maupun alam dan mahluk hidup lainnya.

sekelompok anak bermain di tepi sungai dan ada ibu-ibu yang memberi makan ternak ayam-ayamnya. Di sudut lain terlihat gadis remaja yang mencuci pakaiannya meskipun boleh dibilang kualitas air sungai Cisadane kurang bagus, tapi mungkin itulah yang bisa mereka hadapi.

disisi lain ada beberapa kelompok bapak-bapak yang sedang memancing ikan dan ketepatan pula ada yang dapat ikan, sontak saya bilang "itu ada yang dapat" dan sih bapak pengayuh kapal bilang "sepertinya ikan lele"

perlahan kapal kami menyusuri sungai dan disekitar kapal kita beberapa kali ada ikan yang meloncat serta banyak terlihat ikan sapu-sapu serta di tepian sungai tadi juga banyak terlihat kecebong dan juga kata bapak pengayuh kapal juga masih banyak ikan gabus, jadi menandakan bahwa nilai ekologi sungai Cisadane ini masih lumayan cukup bagus dan semoga semakin bagus apalagi melihat sungainya yang tenang dan tidak terlalu banyak sampah sehingga memberi gambaran taraf kesadaran hidup masyarakat di bantaran sungai sungai Cisadane sudah mulai bagus. 
Akhirnya kami harus menepi ke dermaga pertama kali kami naik yaitu dermaga di sisi timur dengan bangunan yang tersusun rapi dan bantaran kali dengan tanggul beton pas disisih jalan raya. ketika mendarat saya melihat lagi aliran sungai yang kita susuri, terlihat sisi barat sungai dengan perpaduan rumah dan tumbuh-tumbuhan yang masih tampak hijau serta air sungai pun langsung bertemu dengan tepian tanah merah daratan warga bantaran sungai Cisadane sebelah timur

Setelah mendarat didermaga, kami melanjutkan untuk jalan jalan ke Kuil Boen Tek Bio dan museum sekalian belanja karena dekat pasar. 
Dalam perjalanan pulang saya hanya terngiang, seandainya Cisadane bisa dikembangkan lagi menjadi area wisata, kama akan banyak warga secara ekonomi akan terangkat.

Ada yang berminat susur Sungai Cisadane? Kalau ada waktu dan sempat Ayuuuuk ajak saya dan bareng-bareng lagi! Siapa tahu banyak hal-hal yang bisa kita temukan. 



Copyright © 2013 FINIA.CO.ID™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.